Pages

Senin, 16 April 2012

10 Tanaman Paling Beracun


Ini mengejutkan membaca dan mengenali beberapa tanaman yang sebagian ada dan tumbuh di sekitar kita, ternyata sangat beracun, dan karenanya kita harus lebih waspada karena kita tahu betapa anak-anak sangat suka mencoba hal baru.


Banyak dari korban utama tanaman ini 'adalah anak-anak, karena mereka sering melihat buah dari tanaman-tanaman beracun ini begitu indah dan terlihat enak untuk dimakan ,Siapa tahu, informasi ini mungkin suatu hari nanti akan berguna bagi kita.

10 .White Snakeroot


Umbi Ular Putih, juga dikenal sebagai White Sanicle atau Boneset Tinggi, adalah tanaman yang sangat beracun, asli Amerika Utara.Bunga berwarna putih dan setelah mekar, biji berbulu kecil yang dihembuskan angin.Tanaman ini memiliki prosentase tinggi tremetol toksin, yang tidak membunuh manusia secara langsung, namun tidak langsung.Ketika tanaman dimakan oleh ternak, toksin diserap ke dalam susu dan daging. Ketika manusia kemudian, pada gilirannya, makan daging sapi atau minum susu, racun memasuki tubuh dan menyebabkan sesuatu yang disebut penyakit susu, yang sangat fatal.

Ribuan pemukim Eropa meninggal karena penyakit susu di Amerika pada awal abad 19.

Hal ini juga percaya bahwa ibu Abraham Lincoln, Nancy Hanks, meninggal karena penyakit susu.

9. Mata boneka


Mata boneka, juga dikenal sebagai Baneberry Putih, adalah tanaman berbunga asli Amerika Utara dan timur.

nama Mata boneka berasal dari buah yang seperti mata mendelik, diameter 1 cm warna putih berry dengan gores stigma hitam,.

Meskipun seluruh tanaman telah dinyatakan beracun untuk konsumsi manusia, bagian paling beracun adalah racun terkonsentrasi di buah, yang paling dikhawatirkan adalah anak-anak, karena buah ini juga manis rasanya

Buah mengandung racun karsinogenik, yang memiliki efek sebagai penghenti kerja otot jantung manusia dan dapat dengan mudah menyebabkan kematian yang cepat.

8 Angel's trumpets (Kembang Terompet)


Kembang Terompet adalah tanaman berbunga, asli ke daerah tropis Amerika Selatan, tetapi ditemukan di seluruh dunia. Kembang Terompet Nama ini berasal dari bunga berbentuk terompet terjumbai , tertutup bulu-bulu halus, yang menggantung dari pohon. Bunga ini memiliki berbagai ukuran (14-50cm) dan berbagai warna, termasuk putih, kuning, oranye dan pink. Semua bagian dari tanaman mengandung racun, seperti alkaloid tropane skopolamin dan atropin.

Tanaman ini kadang-kadang berubah menjadi teh dan dicerna sebagai obat halusinogen . tingkat toksisitas yang bervariasi tergantung lokasi tanaman, dan bagian ke bagian, hampir tidak mungkin untuk mengetahui berapa banyak racun yang Anda telan. Sebagai akibatnya, banyak pengguna yang overdosis dan meninggal dari itu.

7 Pohon Strychnine


Strychnine, lebih dikenal sebagai kacang racun atau Tombol Quaker, adalah pohon berukuran sedang, asli India dan Asia Tenggara. Benih kecil di dalam pohon 'hijau mirip buah jeruk, sangat beracun, dipenuhi dengan alkaloid beracun' Strychnine dan Brucine.

30 mg racun ini cukup fatal bagi orang dewasa, dan akan menyebabkan kematian yang menyakitkan dengan kejang-kejang hebat karena stimulasi simultan dari ganglia sensoris di tulang belakang.

6. English Yew


English Yew adalah asli Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat Daya.Ini adalah pohon kecil yang memiliki biji tertutup dalam, lembut merah, berry seperti baju besi.

berry armor adalah bagian satunya buah yang tidak beracun dan ini memungkinkan burung untuk makan buah dan menyebar benih tanpa efek sakit.

Dibutuhkan dosis sekitar 50g untuk membunuh manusia. Gejala termasuk kesulitan bernapas, tremor otot, kejang, kolaps dan akhirnya gagal jantung. Dalam kasus-kasus keracunan yang parah, kematian berlangsung begitu cepat sehingga gejala lainnya tidak tampak.

5. Water hemlock


Water hemlock , atau ubi racun, adalah sekelompok tanaman yang sangat beracun yang asli dari daerah beriklim sedang di belahan bumi utara.

Tanaman memiliki bunga putih yang sangat khas atau hijau kecil, dalam bentuk payung.

hemlock dianggap tanaman di Amerika Utara yang paling beracun karena sangat fatal bagi manusia. Tanaman mengandung racun bernama cicutoxin yang menyebabkan kejang.

Racun ini ditemukan di semua bagian tanaman tetapi sebagian besar terkonsentrasi di akar, yang paling kuat di musim semi. Selain kejang spontan, gejala lain termasuk mual, muntah, sakit perut, tremor dan kebingungan.

Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pernafasan atau fibrilasi ventrikel dan dapat terjadi hanya beberapa jam setelah konsumsi.

4. Wolfsbane (Kutukan Serigala)


Wolfsbane, juga dikenal sebagai kutukan macan tutul, kutukan wanita atau helm setan, adalah tanaman keluarga species buttercup.Tanaman ini abadi asli daerah pegunungan di belahan bumi utara.

Tanaman mengandung jumlah yang sangat besar racun yang disebut alkaloid pseudaconitine, yang digunakan oleh orang-orang Ainu Jepang sebagai racun untuk berburu, di ujung kepala panah mereka.

Dalam kasus jika tertelan, gejala meliputi terbakar pada tungkai dan perut, .Dalam kasus dosis besar, kematian dapat terjadi dalam 2-6 jam dan 20ml cukup untuk membunuh manusia dewasa.

3. Rosary Pea


Rosary Pea , juga dikenal sebagai mata Kepiting atau Jumbie manik, adalah pendaki abadi ramping yang tumbuh di sekitar pohon-pohon, semak dan pagar tanaman.

Tanaman ini asli Indonesia, tetapi tumbuh di sebagian besar dunia. paling dikenal karena bijinya, yang digunakan sebagai manik-manik, dan memiliki warna merah terang untuk mengatur warna dengan bercak hitam tunggal . Racun yang terkandung dalam tanaman (abrin) sangat mirip dengan racun risin, ditemukan di beberapa tanaman beracun lainnya.

Ada satu perbedaan utama antara racun-racun, dan itu adalah bahwa abrin adalah sekitar 75 kali lebih kuat dari risin.

Ini menyimpulkan bahwa dosis mematikan jauh lebih sedikit, dan dalam beberapa kasus sesedikit 3 mikrogram bisa membunuh manusia dewasa.

Menggunakan biji manik-manik bahkan menimbulkan ancaman besar, karena dalam beberapa kasus para pembuat terkena serpihan buah waktu mengebor untuk membuat lubang tali dalam biji.

2. Belladonna


Belladonna, juga dikenal sebagai Setan berry, ceri kematian atau nightshade yang mematikan, adalah asli ke Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat.

Ini juga merupakan salah satu tanaman dunia yang paling beracun karena mengandung alkaloid tropane, beberapa di antaranya menyebabkan mengigau dan halusinasi.

Gejala lain dari keracunan Belladonna termasuk kehilangan suara, mulut kering, sakit kepala, kesulitan bernafas dan kejang-kejang. Seluruh tanaman beracun, namun buah biasanya menjaadi risiko terbesar, karena rasanya manis dan cenderung menarik perhatian anak-anak. 10 - 20 buah bisa membunuh orang dewasa, tapi hanya perlu 1 daun (di mana racun jauh lebih terkonsentrasi) untuk membunuh seorang pria dewasa.

Anehnya, ratu Elizabeth (1500) menggunakan Belladonna sebagai bagian dari rutinitas harian kosmetiknya. Mereka menggunakan tetes terbuat dari tanaman sebagai obat tetes mata, untuk melebarkan pupil mereka, yang dianggap menarik

banyak manusia belum tahu kala itu,karena para wanita juga minum sianida, atau "bled"untuk mendapatkan warna, kulit pucat tembus, di samping melukis wajah mereka putih dengan cat disebut Cerise.

1. Tanaman JARAK !!

Tanaman paling beracun di dunia .


Tanaman jarak yang berasal dari cekungan Mediterania, Afrika dan India, namun secara luas ditanam sebagai tanaman hias.Sebuah toksin yang disebut risin ditemukan di seluruh tanaman, tetapi terkonsentrasi dalam biji / kacang (bahan untuk minyak jarak ). Satu biji mentah cukup untuk membunuh manusia dalam 2 hari, yang membuat kematian, panjang menyakitkan dan tak terbendung. Gejala pertama akan dialami dalam beberapa jam dan akan termasuk sensasi terbakar di tenggorokan & mulut, sakit perut, diare berdarah dan muntah.

Proses ini tak terbendung dan penyebab akhir kematian karena dehidrasi.Anehnya, manusia yang paling sensitif terhadap benih-benih ini, karena dibutuhkan 1-4 untuk membunuh manusia dewasa penuh, 11 untuk membunuh anjing dan 80 benih untuk membunuh bebek.

Tanaman jarak saat ini memegang Rekor dari Guinness World Record sebagai tanaman paling beracun di dunia !!!

Kisah Perjuangan Sisingamangaraja XII


            Ketika Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak, waktu itu umurnya baru 19 tahun. Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda. Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Sisingamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang “terbeang” atau ditawan, harus dilepaskan.
Sisingamangaraja XII memang terkenal anti perbudakan, anti penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan. Belanda pada waktu itu masih mengakui Tanah Batak sebagai “De Onafhankelijke Bataklandan” (Daerah Batak yang tidak tergantung pada Belanda.
Tahun 1837, kolonialis Belanda memadamkan “Perang Paderi” dan melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga.

             Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’.
Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Sisingamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda.

                Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings” Besluit Tahun 1876” yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, suasana di Tanah Batak bagian Utara menjadi panas. Raja Sisingamangaraja XII yang kendati secara clan, bukan berasal dari Silindung, namun sebagai Raja yang mengayomi raja-raja lainnya di seluruh Tanah Batak, bangkit kegeramannya melihat Belanda mulai menganeksasi tanah-tanah Batak.

                Raja Sisingamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai mencaplok Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain. Raja Sisingamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :
1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

                Terlihat dari peristiwa ini, Sisingamangaraja XII lah yang dengan semangat garang, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Sisingamangaraja XII bukan anti agama. Dan terlihat pula, Sisingamangaraja XII di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dan suku-suku lainnya.
Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya.
                Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa, 30 tahun.
Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Sisingamangaraja XII.Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, tempat istana dan markas besar Sisingamangaraja XII di Tangga Batu, Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihempang.
Belanda merobah taktik, ia menyerbu pada babak berikutnya ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Sisingamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara.

                Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Sisingamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

                Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Sisingamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Domino berikut yang dijadikan pasukan Belanda yang besar dari Batavia (Jakarta sekarang), mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan.
Raja Sisingamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Baik kekuatan laut dari Danau Toba, pasukan Sisingamangaraja XII dikerahkan. Empat puluh Solu Bolon atau kapal yang masing-masing panjangnya sampai 20 meter dan mengangkut pasukan sebanyak 20 x 40 orang jadi 800 orang melaju menuju Balige. Pertempuran besar terjadi.

                Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Sisingamangaraja XII.
Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Sisingamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.

                Pada waktu itulah, Gunung Krakatau meletus. Awan hitam meliputi Tanah Batak. Suatu alamat buruk seakan-akan datang. Sebelum peristiwa ini, pada situasi yang kritis, Sisingamangaraja XII berusaha melakukan konsolidasi memperluas front perlawanan. Beliau berkunjung ke Asahan, Tanah Karo dan Simalungun, demi koordinasi perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda.

Dalam gerak perjuangannya itu banyak sekali kisah tentang kesaktian Raja Sisingamangaraja XII.

                Perlawanan pasukan Sisingamangaraja XII semakin melebar dan seru, tetapi Belanda juga berani mengambil resiko besar, dengan terus mendatangkan bala bantuan dari Batavia, Fort De Kok, Sibolga dan Aceh. Barisan Marsuse juga didatangkan bahkan para tawanan diboyong dari Jawa untuk menjadi umpan peluru dan tameng pasukan Belanda.
Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki “Si Gurbak Ulu Na Birong”. Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.

                Tahun 1890, Belanda membentuk pasukan khusus Marsose untuk menyerang Sisingamangaraja XII. Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil di Aceh.
Tahun 1903, Panglima Polim menghentikan perlawanan. Tetapi di Gayo, dimana Raja Sisingamangaraja XII pernah berkunjung, perlawanan masih sengit. Masuklah pasukan Belanda dari Gayo Alas menyerang Sisingamangaraja XII.

                Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Ia bertempur sampai titik darah penghabisan. Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil. Raja Buntal dan Pangkilim. Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain.

                Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Konon Raja Sisingamangaraja XII yang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya.

                Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina dan dinista, mereka pun ikut menjadi korban perjuangan.

                Tetapi sebelum Beliau gugur, penjajah Belanda pernah menawarkan perdamaian kepada Raja Sisingamangaraja XII dengan imbalan yang cukup menggiurkan. Patriotismenya digoda berat. Beliau ditawarkan dan dijanjikan akan diangkat sebagai Sultan. Asal saja bersedia takluk kepada kekuasaan Belanda. Beliau akan dijadikan Raja Tanah Batak asal mau berdamai. Gubernur Belanda Van Daalen yang memberi tawaran itu bahkan berjanji, akan menyambut sendiri kedatangan Raja Sisingamangaraja XII dengan tembakan meriam 21 kali, bila bersedia masuk ke pangkuan kolonial Belanda, dan akan diberikan kedudukan dengan kesenangan yang besar, asal saja mau kompromi, tetapi Raja Sisingamangaraja XII tegas menolak. Ia berpendirian, lebih baik berkalang tanah daripada hidup di peraduan penjajah.

Raja Sisingamangaraja XII gugur pada tanggal 17 Juni 1907, tetapi pengorbanannya tidaklah sia-sia.
Dan cuma 38 tahun kemudian, penjajah betul-betul angkat kaki dari Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Sukarno-Hatta.

Kemudian oleh Yayasan Universitas Sisingamangaraja XII pada tahun 1984 telah didirikan Universitas Sisingamangaraja XII (US XII) di Medan, pada tahun 1986 Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) di Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara dan pada tahun 1987 didirikan STMIK Sisingamangaraja XII di Medan.

Kisah Perjuangan Ki Hajar Dewantara


       Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara terlahir dalam keluarga kraton Yogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA.
Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisan-tulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal anatarlain "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.
Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dilaihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh KI Hajar Dewantara untuk mendalami bidang pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte.
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar Dewantara tak hanya melalui Taman siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan KI Hajar Dewantara berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai Semboyan yaitu tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

           Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dingkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan Nasional untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.

Minggu, 15 April 2012

Sejarah Alat Musik Drum

Sejarah drum dimulai dengan munculnya peradaban manusia. pukulan drum telah dikaitkan dengan kelahiran manusia. drum adalah salah satu jenis alat musik yang du pakai di hutan.juga disebut membranophone, berarti sebuah alat yang membuat suara dari selaput yang berkepanjangan dan mengesankan dengan beberapa jenis objek, biasanya sebuah lengkung stick.


Drum terdiri dari hollowed out potong (disebut tubuh), yang memanjang pada ujung drum, dan tombol tuning atau pasak yang stiffens atau loosens selaput yang berbeda untuk mencapai nada. YAng mengahsilkan suara saat kita bermain drum adalah pada saat kita memukul gendang selaput tersebut.

Berikut sejarah drum, alat musik drum sudah ada kira-kira pada 6000 SM. Mesopotamian excavations ditemukan kecil silinder drum tanggal 3000 SM. Di dalam gua-gua di Peru, ada beberapa lukisan di dinding-dinding yang ditemukan, tanda-tanda yang menunjukkan penggunaan drum dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Suka Indian menggunakan labu dan kayu untuk membuat alt musik drum tersebut dan dipakai untuk upacara-upacara ritual. Drum tidak selalu digunakan untuk menghibur musik saja. Tapi juga digunakan untuk berkomunikasi

Budaya suku di Afrika (juga di daerah kebudayaan). Orang-orang dari berbagai suku Afrika diandalkan untuk menggunaan drum untuk mengekspresikan diri mereka dan menyampaikan pesan penting melalui serangkaian pukulan drum sepanjang hutan.

Ketika itu ditemukan dalam sejarah bahwa salah satu pemain drum dapat memainkan dua atau lebih drum pada saat yang sama, masyarakat mulai menempatkan kelompok drum bersama-sama untuk satu musisi untuk bermain. Pemain drum tidak hanya bermain drum dari jenis yang sama tetapi juga dari budaya lain dan seluruh dunia. Awal tahun 1930an ditemukan trik baru. PAra musisi menemukan dengan tepat penempatan pada drum dengan melakukan banyka latihan, satu pemain bisa menangani satu set drum, dan seluruh kelompok pemain drum tidak diperlukan lagi.

Ganda adalah salah satu permainan tambur drum bermain lebih dari satu drum. Gembrengan dan tom tom, yang berasal dari Cina telah ditambahkan ke drum kit dari drum yang cepat untuk mengakomodasi berbagai set drum. Cowbells, kayu balok, dan bunyi genta lonceng dengan ketukan tambahan. Dalam aliran sejarah drum, pada tahun 1930an drum kit telah dibuat dengan berbagai bentuk instrumen dalam gudang persenjataan. Drum Kit yang terdiri dari satu kaki dan pedal bass drum, jerat, Cymbal hi hat, toms tom, dan besar gembrengan gantung.

1960-an melihat kebangkitan rock drummer, yang dimulai pengembangan drum kit standar saat itu. tambahan tom tom dan gembrengan, serta akumulasi bass drum lain untuk meningkatkan kecepatan tersebut ditambahkan.KEmudian muncullah elektronik drum yang dapat menghasilkan berbagai suara. Dan alat musik drum digunakan sampai saat ini.


Kisah Perjuangan Teuku Umar

1. Riwayat Hidup

Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki peran sangat besar terhadap perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Di tanah ini, banyak muncul pahlawan-pahlawan nasional yang sangat berjasa, tidak hanya untuk rakyat Aceh saja tapi juga untuk rakyat Indonesia pada umumnya. Salah satu pahlawan tersebut adalah Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899.
Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.
Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.
Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.
Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.
Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri  yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.
Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.
Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.
2. Pemikiran
Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.
3. Karya
Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.
4. Penghargaan
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Sejarah Kerajaan Majapahit


Sebelum munculnya Kerajaan Majapahit, di Jawa Timur sudah terdapat Kerajaan yaitu Singasari. Kerajaan tersebut didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Puncak kejayaannya terjadi pada masa pemerintahan Kertanegara (1268 – 1292). Beliau mempunyai cita-cita mempersatukan seluruh nusantara dibawah kekuasaan Singasari, sehingga istilah “Wawasan Nusantara” atau “Penyatuan Nusantara” sudah dirintis sejak masa pemerintahan kertanegara.
Kerajaan Singasari mengalami kemunduran setelah mendapat serbuan Raja Jayakatwang dari Kediri pada tahun 1292. Pada saat penyerbuan tersebut hampir seluruh krabat keraton Singasari gugur, kecuali Raden Wijaya bersama beberapa pembantunya, yang kelak sebagai pendiri Kerajaan Majapahit.
Berikut ini akan dijelaskan tentang Kerajaan Majapahit, terutama yang berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan dengan negara tetangga serta lahirnya gagasan persatuan nusantara (Sumpah Palapa).

Pusat kerajaan Majapahit

Daerah inti Kerajaan Majapahit adalah sekitar Sungai Brantas, dan berpusat di Mojokerto. Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Indoesia kedua setelah Sriwijaya. Oleh karena itu, Majapahit disebut sebagai kerajaan yang bertaraf nasional ke dua.
Munculnya Majapahit sebagai kerajaan besar didorong oleh faktor-faktor berikut.
  • Secara geografis letaknya sangat baik, yaitu di tengah-tengah nusantara
  • Terletak di tepi Sungai Brantas, sehingga mudah dilayari oleh kapal-kapal
  • Tanahnya subur, sehingga banyak menghasilkan barang ekspor
  • Munculnya tokoh-tokoh negarawan, seperti Raden Wijaya dan Gajah Mada
  • Tidak adanya saingan kerajaan lain di Indonesia
  • Di luar Indonesia tidak ada lagi kerajaan besar

Raja-raja Majapahit

Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit ialah Raden Wijaya, Sri Jayanegara, Tribhuwanatunggadewi, Hayam Wuruk, dan Wikramawardhana.
a. Raden Wijaya
Lahirnya Kerajaan Majapahit tidak terlepas dari peranan Raden Wijaya. Sejak runtuhnya Singasari akibat serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bersama para pembantunya (Nambi, Ranggalawe) serta bantuan penduduk Desa Kudadu, berhasil meloloskan diri dari kejaran Jayakatwang. Dari Kudadu ini, Raden Wijaya menuju ke Sumenep untuk mencari perlindungan Arya Wiraraja. Atas bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya berhasil menjadi abdi Jayakatwang. Raden Wijaya memperoleh sebuah tanah di Tarik. Bersama-sama dengan orang Madura, Raden Wijaya membuka hutan Tarik. Hutan inilah yang kemudian menjadi desa yang diberi nama Majapahit. Setelah itu, Raden Wijaya berusaha menarik simpati para penduduk baru, sebagai persiapan menghadapi Jayakatwang.
Ketika persiapan sudah matang, datang tentara TarTar (Mongol) yang dikirim Kubhilai Khan untuk menghukum Kertanegara Raja Singasari. Tetapi, Kertanegara telah terbunuh oleh Jayakatwang, Raja Kediri. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menyerbu Kediri. Pasukan Jayakatwang menjadi kerepotan dan dengan mudah dapat dikalahkan. Setelah itu, dengan berbagai cara Raden Wijaya berhasil memukul mundur tentara TarTar. Tentara TarTar ini dipimpin oleh Shih Pie, Ike Mishe, dan Kau Sing. Mundurnya tentara Tar Tar dan hancurnya Kediri, membuka jalan bagi Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan Majapahit. Ia naik tahta dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1294 M.
Untuk memperkuat kedudukannya sebagai raja, Raden Wijaya mengawini empat putri Kertanegara, yaitu yang tertua Tribhuwana sebagai permaisuri, kemudian Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri anak bungsu yang dijadikan rajapatni. Gayatri inilah yang kemduian menurunkan raja-raja Majapahit. Di samping itu, Raden Wijaya juga mengawini Dara Petak, putri boyongan dari Melayu.
Pada masa pemerintahan Raden Wijaya orang-orang yang telah berjasa diberi kedudukan dan hadiah yang pantas. Tata pemerintahan disusun seperti pada masa Singasari dengan menambah lima orang menteri. Ia berhasil memulihkan keadaan negara menjadi aman dan tentram. Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 M dan dimakankan di Sumberjati (Blitar) sebagai Siwa dan di Antahpura sebagai Budha. Arca perwujudannya berupa Harihara, yaitu Wisnu dan Siwa dalam satu Arca.
b. Sri Jayanegara
Sepeninggal Kertarajasa, pada tahun 1309 M, putranya Kala Gemet naik tahta dengan gelar Sri Jayanegara. Pada masa pemerintahannya banyak timbul pemberontakan. Pemberontakan itu terjadi karena faktor-faktor berikut.
  • Adanya ketidakpuasan para pengikut Kertarajasa. Pada saat Kertarajasa berkuasa, mereka tidak berani memberontak atau gagal karena Kertarajasa terlalu kuat.
  • Jayanegara seorang raja yang lemah.
  • Jayanegara lebih mengutamakan kepentingan keluarga, karena banyak dipengaruhi oleh keluarganya.
  • Jayanegara dianggap bukan keturunan langsung Majapahit. Oleh karena itu, ia dianggap tidak sah untuk menjadi raja.
Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi pada masa Jayanegara, antara lain:
- Ranggalawe, tahun 1309M
- Lembu Sora, tahun 1311M
- Juru Demung, tahun 1313M
- Mandana dan Wagal, tahun 1314M
- Nambi, tahun 1316M
- Lasem dan Semi, tahun 1318M
- Kuti, tahun 1319M
Pemberontakan yang paling membahayakan adalah Pemberontakan Kuti, sebab Kuti berhasil menduduki Ibu kota Kerajaan. Hal ini menyebabkan Jayanegara terpaksa melarikan diri ke Desa Badander di bawah perlindungan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajar Mada.
Setelah raja dalam keadaan aman di Badander, Gajah Mada secara diam-diam melakukan penyelidikan ke kota untuk mengetahui pendukung Jayanegara. Setelah diketahui dengan pasti bahwa dukungan masih banyak, Gajah Mada menyerbu ke Kota dan berhasil menewaskan Kuti. Setelah ibu kota dalam keadaan aman, Jayanegara dibawa kembali ke ibu kota untuk melanjutkan pemerintahannya.
Berkat jasanya, Gajah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan. Ia kemudian dipindahkan sebagai patih di Daha pada tahun 1321M.
Pemerintah Jayanegara tidak berlangsung lama. Pada tahun 1328M, Jayanegara meninggal dunia. Beliau dibunuh oleh seorang tabib kerajaan yang ternyata kaki tangan Kuti. Tabib itu bernama Tanca, tetapi akhirnya Tanca pun dibunuh oleh Gajah Mada. Persitiwa ini disebut Peristiwa Tanca atau Patanca. Beliau didharmakan di Candii Senggapura Kapopongan, di Silapetak dan di Bubat sebagai Wisnu, serta di Sukalila sebagai Budha Amoghasidi.
c. Tribhuwanatunggadewi
Berhubung Jayanegara tidak berputa, kekuasaan jatuh ke tangan Gayatri. Karena Gayatri menjadi seorang Bhiksun, kekuasaan diserahkan kepada anaknya, yaitu Tribhuwanatunggadewi.
Bersama suaminya Kertawardana, Ratu Tribhuwanatunggadewi menjalankan pemerintahan. Pada masa pemerintahannya timbul Pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331 M. Berkat tindakan Gajah Mada, pemberontakan ini berhasil dipadamkan. Keberhasilan ini menjadikan Gajah Mada diangkat sebagai maha patih. Gajag mada mengucapkan sumpah yang dikenal sebagai “Sumpah Palapa”.
Isi Sumpah Palapa: Gajah Mada tidak akan bersenang-senang sebelum berhasil mempersatukan nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Hakikatnya adalah suatu tekad atau keinginan yang kuat dari Gajah Mada untuk mempersatukan nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1333M.
Dalam usahanya untuk mewujudkan cita-citanya, Gajah Mada tahun 1334 M menguasai Bali. Kemudian, satu persatu daerah yang lain juga dikuasai. Daerah-daerah tersebut antara lain Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sumatera, dan beberapa daerah di Semenanjung Malaka.
d. Hayam Wuruk
Gayatri wafat pada tahun 1350 M. Karena itu, Tribhuwanatunggadewi turun tahta. Ia digantikan oleh putranya, yaitu Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Pada masa pemerintahan Hayam wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kejayaan.
Dikatakan dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, bahwa pada zaman Hayam Wuruk wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas. Wilayah kekuasaan itu hampir meliputi seluruh Republik Indonesia seperti sekarang ini. Daerah-daerah tersebut meliputi Sumatera di bagian barat, sampai Maluku dan Irian di bagian timur. Satu-satunya daerah yang belum berhasil dikuasai adalah kerajaan Sunda. Dua kali Hayam Wuruk melakukan penyerbuan tetapi selalu gagal.
Dalam upaya menguasai Kerajaan Sunda, Gajah Mada menghendaki adanya perkawinan antara putri Sri Baduga Maharaja dengan Hayam Wuruk. Hal ini sekaligus sebagai tanda petuhnya Raja Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan dan mendapat tantangan yang keras dari raja dan bangsawan Sunda. Perselisihan tidak dapat dihindari, bahkan meningkat menjadi peperangan. Peristiwa ini terjadi di daerah Bubat pada tahun 1357M. Peristiwa ini disebut Peristiwa Bubat. Dalam peristiwa itu, Sri Baduga Maharaja gugur. Dyah Pitaloka sendiri akhirnya bunuh diri.
Sepeninggalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kemunduran. Gajah Mada meninggal tahun 1364 M, sedangkan Hayam wuruk pada tahun 1389M.
e. Wikramawardhana
Pengganti Hayam Wuruk adalah Wikramawardhana. Ia adalah suami Kusumawardhani (puti Hayam Wuruk). Permaisuri Hayam Wuruk tidak mempunyai anak laki-laki, sedangkan dari selir ia mempunyai anak laki-laki, yaitu Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi telah diberi kekuasaan di daerah timur (sekitar Blambangan).
Hubungan kedua saudara itu mula-mula berjalan dengan baik. Akan tetapi, pada tahun 1400M hubungan keduanya mulai retak. Akhirnya perang saudara, yang disebut Perang Paregrek. Perang ini berlangsung tahun 1401 M sampai 1406 M. Perang ini dimenangkan oleh Wikramawardhana, dengan terbunuhnya Bhre Wirabhumi. Peristiwa ini dijadikan dasar cerita “Damarwulan-Minakjingga”.
Raja-raja Majapahit setelah Wikramawardhana, antara lain:
- Suhita: Tahun 1429-1447M
- Kertawijaya: Tahun 1447-1451M
- Rajasawardhana: Tahun 1451-1453M
- Purwawisasa: Tahun 1456-1466M
- Singhawikramawardhana: Tahun 1466-1478M

Masa kemunduran Majapahit

Kemunduran Kerajaan Majapahit disebabkan oleh faktor-faktor berikut.
  • Tidak adanya negarawan yang tangguh yang dapat mempertahankan kesatuan wilayaah yang sangat luas
  • Perang saudara yang berlarut-larut antara Wirakramawardhana dan Bhre Wirabhumi (Perang Paregrek) memperlemah Majapahit.
  • Sistem pemerintahan yang mirip serikat dan memberikan otonomi kepada daerah menyebabkan daerah-daerah berusaha melarikan diri.
  • Kemunduran ekonomi dan perdagangan mengakibatkan banyak daerah yang melepaskan diri.
Karena faktor-faktor di atas, sedikit demi sedikit Majapahit mengalami kemunduran dan keruntuhan.

Perekonomian Majapahit

Dalam bidang perekonomian Majapahit mengandalkan pelayaran perdagangan tanpa meninggalkan pertanian. Saat mencapai puncak kejayaannya, Majapahit berhasil menguasai perdagangan dan pelayaran di perairan Indonesia, bahkan seluruh perairan di Asia Tenggara. Barang dagangan yang penting, antara lain rempah-rempah dan beras. Pelabuhan-pelabuhan Majapahit, seperti Canggu, Hujung Galuh, Tuban, dan Gresik, semakin memperkuat perekonomian kerajaan.
Majapahit memperoleh pendapatan negara dari perdagangan, bea cukai, pajak, dan upeti. Biasanya, upeti berupa beras dari rakyat. Kerajaan Majapahit juga menjalin hubungan dengan negara-negara tetangga dengan baik (Mitraka Satata) seperti: Siam, Burma, Campa, dan Anam. Hal ini membuktikan bahwa sejak dahulu bangsa Indonesia suka bersahabat dengan bangsa lain.

Hasil-hasil kebudayaan Majapahit

Pada Masa pemerintahan Hayam Wuruk, kebudayaan berkembang dengan baik. Keraajaan Majapahit terkenal dengan seni bangunan berbentuk candi. Hasil-hasil kebudayaannya antara lain:
- Candi Panataran di Blitar
- Candi Pari dekat Porong
- Candi Tikus dekat Mojokerto
- Candi Sumberjati
- Candi Antahpura
- Candi Rimbi
- Candi Tigawangi
- Candi Sorawan
Selain candi, Kerajaan Majapahit juga dikenal menghasilkan pujangga-pujangga terkenal. Karya-karya sastranya, antara lain sebagai berikut:
  • Kitab Negarakeirtagama, karangan Mpu Prapanca
  • Arjunawijaya dan Sutasoma, karya Mpu Tantular
  • Kitab Hukum Kutaramanawa, karya Gajah Mada yang bersumber dari Kitab Kutarasastra dan Manawasastra. Hukum ini disesuaikan dengan adat yang berlaku di Majapahit.

Silsilah Raja-raja Majapahit


Untuk memperluas perkembangan Kerajaan Majapahit, perhatikan silsilah raja-raja Majapahit seperti tampak di atas. Dalam silsilah tersebut, kamu akan mengetahui nama-nama raja yang berhasil mengembangkan Kerajaan Majapahit, membawa nama besar kerajaan sampai titik kehancuran.